Rabu, 30 November 2011

Pendidikan Pencegahan HIV / AIDS ke dalam Kurikulum Sekolah

SUPLEMEN

PENGINTEGRASIAN PENDIDIKAN PENCEGAHAN HIV / AIDS KE DALAM KURIKULUM SEKOLAH


 


 

Petunjuk:

Lembar suplemen ini dimaksudkan untuk membantu Sekolah/ madrasah dalam melaksanakan pendidikan pencegahan melawan HIV/AIDS dalam lingkungan sekolah, sebagai bagian dari proses evaluasi diri sekolah.


 

Atas dasar evaluasi tentang ancaman HIV ini, Sekolah/Madrasah dapat menentukan pilihan tindakan pencegahan melawan HIV/AIDS dalam lingkungan sekolah, untuk dapat dimasukkan ke dalam Rencana Pengembangan Sekolah (RPS) dan Rencana Kerja Sekolah (RKS).


 

  1. Ancaman HIV dan AIDS di Indonesia


 


 

  • HIV dan AIDS merupakan fenomena gunung es yang muncul ke permukaan—yang tampak kecil tetapi sebenarnya realitasnya lebih besar dari itu.
  • Di Indonesia, hingga Juni 2007, tercatat 9.689 kasus AIDS, dan infeksi HIV mencapai 5.813 kasus (Ditjen P2MPL Depkes RI).
  • Remaja merupakan kelompok umur yang paling banyak terkena kasus HIV dan AIDS.
  • Jumlah pengidap HIV dan AIDS di Indonesia mencapai 90.000 – 130.000 orang.
  • Jumlah kumulatif kasus AIDS terbanyak hingga Juni 2007 adalah sebagai berikut:
  1. DKI Jakarta        : 2.713
  2. Papua            : 1.244
  3. Jawa Barat            : 1.226
  4. Jawa Timur        : 985
  5. Bali                : 560
  6. Kalimantan Barat        : 553
  7. Sumatera Utara        : 413
  8. Jawa Tengah        : 338
  9. Kepulauan Riau        : 226
  10. Sulawesi Selatan        : 143


 

Berdasarkan cara penularannya, secara kumulatif kasus AIDS dapat dilihat pada urutan di bawah ini:

  1. Pengguna narkoba suntik (IDU)    : 4.757
  2. Heteroseksual            : 4.079
  3. Homoseksual            : 379


 

Berdasarkan kelompok umur, proporsi sebarannya adalah sebagai berikut:

  1. 20 – 29 Tahun    : 54 %
  2. 30 – 39 Tahun    : 28%
  3. 40 – 49 Tahun    : 8%


 

Cara penularan dan cara pencegahan dan kemana hrs merujuk kepada otoritas.


 

  1. Analisis Resiko

    Memahami kondisi lingkungan sekolah dengan melihat pada ancaman IMS, NAFSA, HIV dan AIDS


 

B.1. Beberapa Pengertian Dasar

Infeksi Menular Seksual (IMS) adalah infeksi atau penyakit yang penularannya terutama terjadi melalui hubungan seksual. IMS termasuk dalam kelompok Infeksi Saluran Reproduksi (ISR).

Penyebab IMS termasuk:

  • Bakteri (kuman), misalnya gonorhoe, sifilis.
  • Virus, misalnya Herpes genitalis, HIV dan AIDS.
  • Jamur, misalnya kandidiasis.


 

Cara Pencegahan IMS:


 

Kemana hrs merujuk:


 

NARKOBA adalah singkatan dari narkotika, psikotropika dan bahan/ zat adiktif lainnya. Narkoba merupakan sesuatu yang dimasukkan ke dalam tubuh baik berupa zat padat, cair, maupun gas yang mengubah fungsi atau struktur tubuh secara fisik dan/atau psikis, tidak termasuk makanan dan air yang dibutuhkan untuk mempertahankan fungsi tubuh yang normal. Ketergantungan pada penggunaan narkoba mempengaruhi fungsi otak dan susunan syaraf sehingga berpengaruh pada suasana-hati (mood) serta perilaku orang tersebut.

HIV adalah singkatan dari Human Immuno-deficiency Virus, yaitu virus yang menyerang dan merusak sistem kekebalan tubuh manusia. Ketika tertular HIV, seseorang dikatakan positif HIV. Namun, hal tersebut tidak mutlak berarti bahwa mereka mengidap AIDS.


 

B2. Analisis Sederhana Resiko HIV/AIDS Di Lingkungan Sekolah


Jawablah Pertanyaan di bawah ini dengan mamberi tanda cek (v) pada kolom YA atau TIDAK .

No. 

Pertanyaan 

Ya 

Tidak 

1. 

Sekolah kami menerapkan kebijakan "sekolah terbebas narkoba"

  

2. 

Sekolah kami berada di lingkungan yang beresiko tinggi (PSK, Narkoba, trafficking)

  

3.

Latar belakang orangtua siswa di sekolah kami sebagian besar dari ekonomi menengah ke bawah

  

4. 

Tingkat drop-out di sekolah kami cukup tinggi

  

5. 

Hubungan sekolah kami dengan orangtua siswa kurang harmonis

  

6. 

Hubungan Kepala Sekolah/ guru kami dengan siswa kurang harmonis

  

7. 

Beberapa siswa di sekolah kami pernah berurusan dengan pihak berwajib dalam kasus (narkoba/perkosaan/pencurian) 

  

8. 

Banyak siswa sering membolos atau meninggalkan pelajaran tanpa keterangan 

  

9. 

Banyak siswa yang ketahuan merokok di lingkungan Sekolah kami

  

10. 

Guru bimbingan dan konseling bagi siswa yang bermasalah tidak tersedia di sekolah kami 

  

11. 

Di sekolah kami terdapat banyak siswa yang hamil di luar nikah

  

12. 

Di sekolah kami diajarkan tentang hukum/peraturan nikah seperti yang diatur dalam undang-undang perkawinan

  

13. 

Resiko akibat-buruk pergaulan bebas tidak diajarkan di sekolah kami

  

14. 

Siswa wanita yang telah haid tidak dibekali pengetahuan tentang cara merawat dan menjaga organ kewanitaannya. 

  

15.

Semua siswa di sekolah kami telah memperoleh informasi tentang bahaya narkoba

  

16. 

Pendidikan pencegahan HIV/ AIDS belum diperkenalkan di sekolah kami

  

17. 

Siswa di sekolah kami sebagian besar belum diperkenalkan dengan alat-alat kontrasepsi

  

18.

Informasi tentang bahaya narkoba dan HIV/AIDS di sekolah kami sangat sedikit 

  

19. 

SDM yang mengetahui tentang HIV/AIDS di sekolah kami sangat sedikit

  

20. 

Sarana pendukung untuk pembelajaran pendidikan HIV/ AIDS belum memadai  

  


 

Keterangan:

  • Bila semua jawaban Ya, sekolah memiliki resiko yang SANGAT TINGGI
  • Bila lebih banyak jawaban Ya, sekolah memiliki resiko yang TINGGI
  • Bila lebih banyak jawaban Tidak, sekolah memiliki resiko yang SEDANG
  • Bila semua jawaban Tidak, sekolah memiliki resiko yang RENDAH


     

  1. Tindak Lanjut Hasil Evaluasi Tentang Ancaman HIV dan AIDS yang Dihadapi Sekolah


 

Aspek keterbukaan informasi tentang pencegahan HIV/ AIDS sangat penting bagi terciptanya perilaku siswa untuk menuju gaya hidup sehat yang didasari etika dan moral.


 

Bagi Sekolah/ Madrasah yang memiliki resiko SANGAT TINGGI, TINGGI dan SEDANG dari hasil analisis sederhana di atas, disarankan agar Sekolah/ Madrasah merujuk ke Suplemen tentang Pengintegrasian pendidikan pencegahan HIV dan AIDS ke dalam Rencana Pengembangan Sekolah (RPS) dan Rencana Kerja Sekolah (RKS) yang tersedia pada Modul Perencanaan dan Penganggaran Sekolah/ Madrasah.


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 

SUPLEMEN

PENGINTEGRASIAN PENDIDIKAN PENCEGAHAN HIV/AIDS KE DALAM RENCANA KEGIATAN SEKOLAH (RKS) DAN RENCANA TAHUNAN


 

  1. Menentukan Pilihan Tindakan Pencegahan HIV/AIDS

    Memberikan pilihan tindakan yang dapat dilaksanakan untuk mengurangi resiko infeksi HIV untuk Sekolah yang memiliki resiko SANGAT TINGGI, TINGGI, dan SEDANG. Ada dua kelompok tindakan yang termasuk dalam katagori Tindakan Struktural dan Tindakan Non Struktural


 

Tindakan Struktural:
Upaya yang memerlukan perubahan-perubahan fisik

 
 
 
 

Tindakan Non Struktural:
Upaya yang memerlukan perubahan-perubahan Non Fisik

 
 
 
 


 

  1. Menentukan Kebutuhan Menghadapi Ancaman HIV/ AIDS

    Mengidentifikasi kebutuhan kegiatan sekolah dan program perbaikan yang dapat dilakukan untuk mengurangi ancaman HIV/ AIDS untuk masuk dalam rencana sekolah 


 

Jangka Pendek 

1. 

 

2. 

 

3. 

 

4. 

 

Jangka Menengah/ Panjang 

1. 

 

2. 

 

3. 

 


 

  1. Memasukkan Pendidikan Pencegahan HIV dan AIDS ke dalam Rencana Sekolah

    Merencanakan pemenuhan kebutuhan pendidikan pencegahan HIV dan AIDS dengan menuangkannya ke dalam RKS dan RKT 


 

Langkah Awal: Idealnya, untuk sekolah-sekolah yang hasil dari analisis resiko terhadap ancaman HIV/ AIDS di sekolah menunjukkan resiko yang SANGAT TINGGI, TINGGI dan SEDANG, maka unsur Kenyamanan sekolah harus menjadi bagian dari kondisi sekolah yang diharapkan (tercermin dalam Visi dan Misi). Jika Kenyamanan sekolah merupakan bagian dari tujuan Pengembangan sekolah, maka tujuan tersebut bisa dijabarkan dalam sasaran, kegiatan dan rencana kerja tahunan.

Jangka waktu Perencanaan: Pada umumnya pilihan tindakan STRUKTURAL dapat dikerjakan dalam Jangka MENENGAH/PANJANG, sedangkan pilihan tindakan NON-STRUKTURAL dapat dikerjakan dalam JANGKA PENDEK. Di dalam mekanisme BOS, rencana jangka menengah/panjang dituangkan dalam Rencana Kegiatan Sekolah/ RKS (4 tahunan), sedangkan rencana jangka pendek dituangkan dalam Rencana Kerja Tahunan (RKT). Selanjutnya rencana-rencana tersebut dituangkan lebih lanjut ke dalam Rencana Kerja Anggaran Sekolah (RKAS).

Contoh Kegiatan Jangka Pendek

1.

Membuat Kebijakan Sekolah tentang larangan merokok, konsumsi narkoba dan sanksinya

2. 

Menyamakan pemahaman tentang faktor-faktor yang menyebabkan semua warga sekolah sangat rawan tertular HIV

3. 

Memutakhirkan pengetahuan para guru tentang pencegahan HIV dan AIDS berdasarkan pendekatan kecakapan hidup

4. 

Mengembangkan kurikulum yang memuat tentang kesehatan reproduksi dan perilaku orang yang mengidap HIV dan AIDS

5. 

Menyediakan guru dan ruang untuk Bimbingan Konseling bagi siswa yang bermasalah 

6. 

Sosialisasi tentang Kesehatan reproduksi, bahaya IMS, HIV dan AIDS, dan narkoba kepada seluruh warga sekolah termasuk komite sekolah

7. 

Melakukan sosialisasi tentang bahaya IMS, HIV dan AIDS, serta narkoba kepada siswa baru pada waktu MOS (masa orientasi studi)

8. 

Menyediakan buku-buku referensi/ film tentang IMS, HIV dan AIDS, Narkoba, Kesehatan Reproduksi

9. 

Mengirimkan guru untuk mengikuti pelatihan mengenai berbagai permasalahan HIV dan AIDS dan pelaksanaan kurikulumnya

10. 

Membuat poster dan melakukan kampanye penyadaran tentang bahaya narkoba dan HIV dan AIDS, perlunya menerapkan gaya hidup sehat.


 

Contoh Jangka Panjang

1. 

Menyusun Renstra yang memuat pendidikan pencegahan HIV dan AIDS

2. 

Pengalokasian dana

3. 

Menjalin kemitraan dengan pihak pihak luar yang terlibat dengan program-program pencegahan HIV dan AIDS

4. 

 


 

  1. Referensi dan Nomor Kontak Penting

    Jika Sekolah/ Madrasah memiliki resiko tinggi dan perlu informasi lebih lanjut, wakilnya dapat menghubungi lembaga dan organisasi berikut untuk mendapatkan informasi lebih lanjut.


 

Nara Sumber dari Pemerintah di Tingkat Provinsi

No 

Lembaga 

Jabatan 

A.

Kepulauan Riau

 

1. 

Dinas Pendidikan Provinsi 

 
   


 

Nara Sumber non Pemerintah di Tingkat Provinsi

No 

Lembaga 

Jabatan 

A. 

Kepulauan Riau 

 

1. 

Dinas Pendidikan Provinsi 

 
   

Sumber : Pelatihan BOS 2011 di Aula DINAS Pendidikan Kabupaten Ngawi tanggal 28 November s.d 1 Desember 2011.

0 komentar:

Poskan Komentar

Design by Abdul Munir Visit Original Post Islamic2 Template ALI @ SD MUHAMMADIYAH 1 NGRAMBE @2012